Ancaman Politik Adu Domba: Jati Diri Bangsa Terancam Disobek

Oleh: Amiruddin

Dalam pusaran dinamika politik, seringkali kita menyaksikan manuver manuver yang bukan hanya menguji kecerdasan, tetapi juga mengancam fondasi persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu taktik berbahaya yang telah teruji waktu dan terbukti merusak adalah politik adu domba, atau yang dalam sejarah penjajahan Belanda dikenal sebagai “De et Impera”. Frasa Latin ini, yang berarti “pecah dan kuasai”, menjadi saksi bisu bagaimana strategi licik ini digunakan untuk melemahkan, menguasai, bahkan menghancurkan sebuah bangsa.

 

Mengulang Sejarah Kelam: De et Impera dalam Konteks Modern

Pada masa penjajahan, Belanda dengan mahir memanfaatkan perbedaan suku, agama, ras, dan golongan di Nusantara. Mereka sengaja memprovokasi, menghasut, dan mengadu domba satu kelompok dengan kelompok lain. Tujuannya jelas: melemahkan kekuatan internal bangsa Indonesia, sehingga memudahkan Belanda untuk mencapai ambisi penjajahan dan eksploitasi sumber daya. Mereka tidak peduli dengan kesejahteraan rakyat, melainkan fokus pada bagaimana memecah belah untuk mencapai tujuan penjajahan maupun untuk menghancurkan.

 

Ironisnya, taktik usang ini masih saja relevan dan kerap ditemukan dalam lanskap politik kontemporer di berbagai tingkatan. Kita menyaksikan bagaimana penghasutan menjadi senjata ampuh, di mana narasi narasi menyesatkan disebarkan untuk menciptakan polarisasi dan kebencian antar kelompok. Yang lebih memprihatinkan, tak jarang para aktor di balik layar ini justru memegang jabatan, namun alih alih fokus pada tujuan jabatan yang sesungguhnya, mereka justru lari dari pada tujuan jabatan tersebut.

 

Jabatan Sebagai Alat Pecah Belah: Misi Penghancuran Terselubung

Para pelaku politik adu domba di era modern ini memiliki modus operandi yang lebih canggih. Mereka tidak selalu terang terangan menyerang, melainkan menggunakan posisi dan kekuasaan yang mereka miliki untuk menggunakan jabatan untuk memecah belah. Mereka ada didalam struktur organisasi atau pemerintahan, namun mempunyai misi menghancurkan dari dalam. Mereka adalah parasit yang menggerogoti kepercayaan publik, merusak harmoni sosial, dan mengikis semangat kebersamaan.

Mengapa Mereka Melakukan Ini? Kekuatan Sponsor di Balik Layar

 

Pertanyaan krusial yang muncul adalah: kenapa dia melakukan ini? Jawabannya seringkali terletak pada arahan dan kepentingan pihak lain. Aktor aktor penghasut ini biasanya karena arahan dari sponsor untuk mendapatkan tujuan yang menguntungkan mereka. Sponsor ini bisa berupa individu, kelompok, atau bahkan kekuatan asing yang memiliki agenda tersembunyi untuk menciptakan ketidakstabilan, melemahkan pemerintahan, atau merusak tatanan sosial demi keuntungan pribadi atau kolektif mereka.

 

Menjaga Organisasi yang Sehat: Singkirkan Racun Penghasut

Organisasi, baik itu partai politik, institusi pemerintahan, maupun komunitas sosial, membutuhkan roda organisasi yang sehat untuk dapat berfungsi optimal dan mencapai tujuannya. Dalam lingkungan yang sehat, kerja sama, kepercayaan, dan integritas menjadi pilar utama. Namun, keberadaan individu dengan pola pikir dan tindakan seperti yang dijelaskan di atas adalah racun yang dapat merusak ekosistem organisasi.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap organisasi yang bercita cita untuk maju dan berkembang untuk berani mengambil sikap tegas. Tipe penghasut seperti ini harus disingkirkan. Ini bukan berarti melakukan tindakan kekerasan, melainkan melalui mekanisme yang demokratis dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Melalui proses evaluasi yang obyektif, penegakan disiplin organisasi, dan penolakan terhadap segala bentuk narasi pecah belah, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk persatuan dan kemajuan.

 

Langkah Bersama Menuju Persatuan yang Kokoh

Menghadapi ancaman politik adu domba membutuhkan kewaspadaan dari seluruh elemen masyarakat. Kita harus cerdas dalam menyaring informasi, kritis terhadap narasi yang memecah belah, dan aktif dalam menjaga tali silaturahmi antar sesama. Marilah kita bersinergi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, menolak segala bentuk politik adu domba, dan bersama sama membangun masa depan bangsa yang lebih baik, di mana persatuan dan kesatuan menjadi kekuatan utama kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!