Pesawaran, Lampung — Suara hati masyarakat Dusun Lubuk Tanoh, Desa Kubu Batu, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, kembali menggema. Jalan yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi kehidupan warga hingga kini masih jauh dari kata layak.
Di balik hamparan tanah dan bebatuan yang dilalui setiap hari, tersimpan harapan sederhana masyarakat sebelum dilakukan pembangunan sebagaimana mestinya jalan raya lain nya, Warga hanya berharap ada langkah awal dari pemerintah, minimal dilakukan penimbunan menggunakan sabes agar akses jalan dapat sedikit lebih mudah dilintasi.Mewakili suara warga masyarakat Dusun Lubuk Tanoh Desa Kubu Batu, Rudi Sapari A.s, Seorang Pemuda yang di lahirkan dan dibesarkan hingga kini dewasa serta tinggal Di Dusun Way Lipang Desa Tanjung Rejo Kecamatan Way Khilau Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung, menyampaikan bahwa kondisi jalan tersebut seolah menjadi saksi bisu perjalanan hidup warga dari generasi ke generasi.
“Ada warga yang lahir, tumbuh dewasa hingga melahirkan anak di tempat itu, namun kondisi jalannya tetap sama seperti dahulu. Belum pernah tersentuh pembangunan,” ujarnya.
Jalan itu bukan sekadar lintasan tanah. Ia adalah jalur anak-anak menuju sekolah, jalan para petani mencari nafkah, serta akses masyarakat membawa harapan hidup setiap hari. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur. Ketika kemarau datang, debu beterbangan menyelimuti perjalanan warga.Bak bait puisi yang belum selesai ditulis, masyarakat Dusun Lubuk Tanoh masih menunggu “sentuhan tangan halus dan lembut” dari para pemimpin daerah maupun wakil rakyat yang pernah datang membawa janji.“Jangan hadir hanya saat membutuhkan suara masyarakat menjelang Pilkada dan Pileg saja. Setelah terpilih, jangan sampai lupa karena sibuk dengan aktivitas kantor dan kekuasaan, hanya kata maupun kalimat sabar dan sabar yang selalu didengar yang tak kunjung ada ending akhir sesuai harapan masyarakat” ungkap Rudi Sapari.Warga mengingat betul bagaimana setiap suara rakyat selalu disebut sangat berharga saat masa pemilihan tiba. Puluhan suara dari dusun tersebut turut menentukan kemenangan para calon legislatif maupun pemimpin daerah hingga tingkat pusat. Namun setelah pesta demokrasi usai, harapan masyarakat seakan kembali tenggelam dalam sunyi.Masyarakat menilai, sebagai warga negara yang taat membayar pajak, mereka juga berhak merasakan pemerataan pembangunan dan perhatian pemerintah.Harapan warga sebenarnya sangat sederhana. Sebelum pembangunan besar direalisasikan, mereka meminta adanya tindakan kecil yang nyata.“Tolong lakukan langkah awal. Sentuh dulu jalan kami meskipun hanya dengan sabes, agar masyarakat tidak terlalu sulit melintasi jalan itu setiap hari,” tambahnya.
Kini masyarakat Dusun Lubuk Tanoh hanya bisa berharap, semoga suara kecil dari pelosok Way Khilau itu dapat didengar oleh para pemegang kebijakan.
Sebab di balik jalan rusak yang belum tersentuh pembangunan, ada doa-doa warga yang terus berjalan bersama debu dan lumpur, menanti hadirnya keadilan pembangunan yang selama ini belum benar-benar sampai kepada mereka.