Infojejama.com//Tulang Bawang Barat Bercerita__Bagi sebagian orang, garis hidup adalah jalan lurus yang mulus. Namun bagi pria kelahiran Karta, 18 Desember 1987 ini, hidup adalah rentetan ombak yang harus diarungi dengan keteguhan hati. Anak ketiga dari delapan bersaudara ini tumbuh dalam dinamika keluarga yang besar dan penuh kehangatan.
Masa kecilnya diwarnai kepindahan rumah orang tua ke Tiyuh Kartaraharja. Hal itu membuatnya harus berpindah sekolah dari SDN 1 Karta Sari ke SDN 1 Kartaraharja saat duduk di kelas 4, hingga lulus. Ia kemudian melanjutkan remaja di SMPN 2 Tiyuh Karta (2000–2003) dan menamatkan masa seragam putih abu-abu di SMAN 1 Karta Tulang Bawang Udik pada tahun 2006.
Badai Kehilangan dan Impian yang Kandas
Usai SMA, badai kebingungan melanda. Demi menjemput nasib, ia merantau ke Bandar Lampung. Langkah kakinya membawa ia menjelajahi Sumatra—dari Palembang, Bengkulu, Jambi, Medan, hingga Padang bekerja di sebuah CV ekspedisi camilan. Namun, di tengah perjuangan mencari jati diri, takdir memukulnya telak pada tahun 2008. Sang ibu kandung tercinta, berpulang ke pangkuan Sang Pencipta karena sakit. Kehilangan jangkar hidup membuat dunianya runtuh, memaksanya pulang dengan hati patah.
Bangkit dari kedukaan, secercah harapan tumbuh. Ia mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang, demi mengejar cita-cita masa kecil: menjadi seorang jaksa. Sayang, gelombang kehidupan kembali menghentikan langkahnya di semester dua. Keterbatasan memaksanya mengubur mimpi itu dan pulang ke tanah kelahiran.
Mengabdi untuk Tanah Kelahiran dan Membina Keluarga
Atas dorongan sang paman Tercinta, ia memutar kemudi hidup. Pada tahun 2009, ia mengabdikan diri sebagai Anggota Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) sebuah kabupaten baru hasil pemekaran yang saat itu masih minim fasilitas. Berjuang di tengah keterbatasan daerah baru tentu tidak mudah, namun ia bertahan.
Di tengah riuh pengabdian, takdir manis menyapa. Pada tahun 2011, ia meminang Wanita yang dicintai, kakak kelasnya semasa SMP yang menjadi pilihan hatinya. Kebahagiaan mereka makin lengkap dengan hadirnya dua putra yang menjadi tiang penyangga semangatnya.
Titik Terendah dan Warisan Sang Ayah
Tahun 2020 menjadi ujian terberat dalam hidupnya. Sang ayah, meninggal mendadak akibat serangan jantung. Di tengah duka yang belum kering, ia juga harus melepas seragam Satuan Polisi Pamong Praja kebanggaannya. Kehilangan pekerjaan dan sosok ayah sekaligus membuat jiwanya guncang hebat.
Namun, menyerah bukan pilihan bagi seorang ayah. Demi anak dan istri, ia menyambung hidup dengan menjual jasa keamanan mandiri. Dari pasar, pusat keramaian, tempat hiburan, hingga pusat perbelanjaan di Tubaba. Ia juga aktif bergabung dalam organisasi kemasyarakatan demi memperluas jaringan.
Hingga akhirnya pada awal 2024, sebuah panggilan jiwa menuntunnya ke arah baru. Ia memutuskan terjun ke dunia pers sebagai jurnalis. Profesi ini bukanlah hal asing, melainkan warisan profesi dari almarhum ayahnya. Mengalir darah jurnalisme sang ayah di tubuhnya, ia tumbuh pesat menjadi wartawan yang andal, tajam dalam investigasi, dan dipercaya publik.
Puncak Kepercayaan: Memimpin DPD JWI TUBABA
Dedikasi dan ketajamannya yang begitu cepat di dunia jurnalistik mendapat pengakuan tinggi. Pada November 2025, Dewan Pimpinan Nasional Jajaran Wartawan Indonesia (DPN-JWI), atas rekomendasi DPW-JWI Provinsi Lampung, resmi memberikan mandat besar kepadanya. Ia dipercaya untuk memimpin Dewan Pimpinan Daerah JWI Kabupaten Tulang Bawang Barat periode 2025–2030.
Dari seorang pemuda yang sempat kehilangan arah, kini ia berdiri tegak sebagai nakhoda Organisasi Profesi pers di tanah kelahirannya. Setiap luka di masa lalu kini berubah menjadi bahan bakar yang mendewasakan perjalanannya sebagai jurnalis handal kebanggaan Tubaba.
——————————–
Penulis: Heri Akbar
——————————–










